Islam Di Korut Masih Bisa Merayakan Shalat Dan Kurban Idul Adha

Binsar

Friday, 24-08-2018 | 10:21 am

MDN
Suasana Idul Adha di Korea Utara [ist]

Pyongyang, Inako –

 

Meski dikenal sebagai negara komunis, Korea Utara ternyata masih menjamin warga muslim yang merayakan shalat dan kurban saat Hari Raya Idul Adha 22 Agustus lalu.

Bersama pihak kedutaan negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), masyarakat Islam di Korea Utara (Korut) merayakan Idul Adha masih bisa melaksanakan shalat Idul Adha di Taedonggang Diplomatic Club, Pyongyang, pada 22 Agustus 2018.

Wakil Menteri Luar Negeri Korea Utara, Choe Hui Chol, hadir dalam perayaan hari raya umat Islam tersebut sebagai tamu kehormatan.

Para duta besar negara-negara OKI terlibat dalam perayaan Idul Adha di Pyongyang dengan koordinatornya Duta Besar Republik Indonesia untuk Korea Utara, Bambang Hiendrasto.

Dalam sambutannya, Bambang mengatakan, ibadah haji merupakan cerminan dari kesatuan umat.

”Ihram yang dipakai oleh para jamaah mencerminkan bahwa mereka menanggalkan status keduniaan, sehingga semua setara di hadapan Allah kecuali tingkat ketakwaan yang menjadi pembeda,” katanya, dalam keterangan tertulis yang diterima media, Jumat (24/8/2018) . 

Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Choe Hui Chol dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat bagi masyarakat Islam yang merayakan Idul Adha, khususnya bagi para duta besar/kuasa usaha negara-negara OKI dan seluruh staf.

Wamenlu Choe juga mengucapkan terima kasih kepada Dubes Bambang dan para dubes/kepala perwakilan negara OKI atas undangan perayaan Idul Adha. Dia berharap kerja sama antara Korea Utara dan negara-negara OKI yang telah terbina lama dapat ditingkatkan.

Perayaan Idul Adha berlanjut dengan ramah tamah sembari menikmati aneka hidangan makanan khas Timur Tengah,  Indonesia, Iran,  Nigeria, dan Pakistan yang disiapkan oleh masing-masing kedutaan.

Sekretaris III Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Pyongyang, Hanna Andari,  menyatakan, pada perayaan tersebut KBRI menyuguhkan sate ayam, mi goreng seafood, martabak telur, kerupuk udang, dan es buah.

“Semua makanan dan minuman khas negara-negara OKI yang dihidangkan pada acara ini sangat disukai hadirin. Bahkan beberapa menu makanan yang disajikan habis dalam waktu singkat, termasuk sate ayam dan martabak telur,” katanya. 

Kerupuk udang Sidoarjo yang pernah diperkenalkan oleh KBRI Pyongyang pada pameran dagang internasional di Pyongyang tahun 2016 juga sangat disukai hadirin.

Meskipun negara-negara anggota OKI berbeda dalam menetapkan tanggal 10 Zulhijah, yaitu 21 Agustus dan 22 Agustus 2018, namun mereka sepakat melaksanakan salat Idul Adha pada 22 Agustus 2018 di Masjid Rahman, kompleks Kedutaan Iran. Mereka sepakat mengikuti keputusan pemerintah Indonesia dalam menetapkan tanggal 1 Syawal dan 10 Zulhijah seperti pada tahun lalu.

Imam salat Idul Adha adalah Isman Laksmana, staf KBRI Pyongyang. Sedangkan khatibnya adalah seorang warga Mesir yang bekerja pada perusahaan patungan telekomunikasi di Pyongyang.

 

KOMENTAR