Lucky Hakim Wakil Bupati dan Hati Yang Kau Sakiti

Hila Bame

Friday, 14-01-2022 | 08:28 am

MDN

 


Oleh. : Adlan Daie
Analis politik elektoral

JAKARTA,INAKORAN

Penulis terus terang belum sekalipun berinteraksi secara personal dengan Lucky Hakim wakil bupati Indramayu. Tapi agak aneh melihat sejumlah spanduk, baliho, banner dan alat publikasi lain atas nama pemerintah daerah di ruang publik Indramayu hanya menampilkan fhoto bupati Nina Agustina tanpa didampingi fhoto Lucky Hakim, wakil bupati pasangannya yang memenangkan pilkada indramayu desember 2020. Penulis sulit memahami rasionalitas dan "akal.waras" politiknya kecuali sekedar desas desus yang sulit diukur validitasnya.


Itulah problem Lucky Hakim dalam posisi jabatannya sebagai wakil buoati Indramayu di tahun pertama jabatannya. Seolah olah ia dikunci rapat di ruang publik. Ibarat "monster" yang menakutkan, tidak boleh "menyapa" rakyat pemilihnya. Dalam teori keadaban politik dalam buku "Negara Paripurna", karya Dr. Yudi Latief, fenomena Lucky Hakim di atas adalah cara politik yang tidak "berpri kemanusiaan yang adil dan beradab". Entah siapa di belakang layar yang "menabur angin" kelak pada.waktunya akan "menuai badai". Sejarah politik selalu hadir membawa "duta suara" keadilan.


Lucky Hakim dalam tinjauan politik elektoral kontemporer sulit "dimatikan" dengan cara cara politik di atas. Ia memiliki dua faktor determinan politik, yaitu faktor "good looking" dan piawai memposisikan diri sebagai tokoh politik "hati yang kau sakiti" (soundtrack lagu Rossa yang diputar dalam sinetron "Azab" ala TV Indosiar  dan  kerap dibintangi Lucky Hakim. Sulit dihambat trend elektoralnya dengan cara konvensional "infantri darat" seperti konsolidasi struktural partai, relawan bentukan maupun penetrasi birokrasi kecuali ia ditutup ruangnya untuk mencalonkan diri.


Dalam sosiologi politik Indonesia yang direkonstruksi seorang profesor politik elektoral dan bertahun tahun meneliti politik di Indonesia, yakni Williem Liddle, guru politik dari Eef Saefullah Fatah dan Saiful Mujani saat kuliah di Ohio University Amerika dan kini keduanya menjadi "polster" (penggiat survey politik) papan atas di Indonesia secara umum pemilih di Indoensia berhenti pada faktor "kesukaan" dibanding mencermati aspek lain misalnya aspek kemampuan, intelektualitas dan kapasitas kepemimpinan. Di titik inilah faktor effect "good locking" Lucky Hakim sulit disaingi tokoh tokoh politik lain yang berpeluang maju dalam pilkada 2024.


Pilkada memang jauh berbeda dari pileg. Pileg terkait performa elektoral partai bukan caleg. Sementara pilkada bertumpu pada sosok pesonal calon. Faktor "good locking", yakni faktor pesona kesukaan pada calon melampaui kesukaan pada partai atau koalisi partai pengusungnya. Lhatlah misalnya hasil survey politik di mana seorang ketua umum partai jauh dibawah posisi elektoralnya dibanding elektoral partai yang dipimpinnya. Sebaliknya tokoh non partai tapi memiliki faktor "good locking" selalu membawa berkah elektoral tinggi.

IItulah "hukum besi" politik elektoral di mana faktor pesona personal atau "good looking" selalu mendapat tempat dalam alam pikiran dan suasana kebatinan mayoritas demografi pemilih di Indonesia khususnya dalam populasi pemilih masyarakat Jawa. Dalam konteks ini fenomena Lucky Hakim sulit dibendung dalam pilkada 2024 kecuali ditutup pintu pencalonannya atau "didowngrade" citranya berbasis riset  survey "prilaku pemilih" secara sistemik dengan kesan simpel.dan tidak dibuat buat.


 

TAG#ADLAN, #INDRMAYU

93030304

KOMENTAR