Melorot 9 Persen Saham Freeport-McMoRan Akibat Tambang Bawah Tanah

Sifi Masdi

Friday, 24-01-2020 | 09:19 am

MDN
PT Freeport Indonesia [ist]

New York, Inako

Biaya Produksi mengalami kenaikan setelah pertambangan terbuka menjadi model pertambangan di bawah tanah oleh luas lahan yang semakin menipis. Kondisi ini melorotkan harga saham Freeport-McMoRan Inc. sebesar  9 persen menjadi US$ 11,98 per lembar. pada kuartal IV dan potensi beban yang semakin tinggi tahun ini.

Simak video InaTv dan jangan lupa klik "subscribe and like" menuju Indonesia maju.

 

Transisi dari tambang tembaga raksasa Grasberg di Papua yang terbuka  ke  penambangan bawah tanah, menghabiskan miliaran dolar demikian laporan perusahaan yang berbasis di New York AS itu. 

Meski demikan,  tambang bawah tanah akan mengurangi efisiensi, produksi yang tahan lama, dan menghasilkan arus kas yang signifikan di masa depan.

Produksi tembaga di Grasberg turun 14 persen pada kuartal IV, sedangkan total produksi logam turun 1,7 persen menjadi 827 juta pon.

Perusahaan mengatakan pihaknya memperkirakan belanja modal untuk 2020 menjadi sekitar US$2,8 miliar, lebih tinggi dari tahun lalu, termasuk US$1,8 miliar untuk proyek-proyek besar. Perusahaan juga telah mengalokasikan US$500 juta lagi untuk pengembangan smelter baru di Indonesia.

“Kami pikir pasar telah mengambil pandangan jangka pendek 2020 dan fokus pada capex [belanja modal] terkait smelter, pedoman kuartal pertama dan biaya tunai,” kata Analis Deutsche Bank, Chris Terry.

Menurut Freeport, unit biaya produksi bersih diperkirakan rata-rata US$1,75 per pon tembaga untuk 2020, dibandingkan dengan US$1,74 pada tahun lalu.

 

TAG#Saham, #Freeport, #Tambang, #Papua

32509637

KOMENTAR