Peta Dukungan Eksternal Dalam Konferwil NU JABAR 2021

Hila Bame

Sunday, 19-09-2021 | 08:45 am

MDN

 


Oleh. :  Adlan Daie
Analis politik/Wakil Sekretaris PWNU Jawa Barat

 

JAKARTA, INAKORAN

Konferwil NU Jawa Barat (Jabar)  2021 tidak akan luput dari proses "tarik tambang" kepentingan politik secara eksternal. Bagi NU pun suatu hal yang biasa dan wajar jika pihak pihak eksternal "ikut bermain" dalam kontestasi pemilihan  pimpinan jam iyah NU di semua tingkatan permusyawaratan internal NU baik di level pimpinan syuriah maupun tanfidziyah.


Dulu Gusdur untuk pertama kalinya terpilih menjadi Ketua Umum PBNU di Muktamar ke 27 tahun 1984 di Situbondo Jawa Timur tak lepas atas "dukungan" penguasa Orde Baru yang berkelindan dengan "restu" dari para kiai berpengaruh di jam iyah NU dengan mekanisme pilihan sistem "Ahlul halli wal aqdi" untuk menentukan Rois 'Am dan Ketua Umum PBNU. Sebuah mekanisme semacam tim formatur "khas politik kiai NU".


Sebaliknya upaya mencegah Gusdur untuk tidak terpilih lagi menjadi Ketua Umum PBNU dilakukan pula oleh penguasa Orde Baru di Muktamar ke 29 tahun 1994 di Cjpasung Jawa Barat tapi gagal akibat  "political game" Gusdur yang canggih memainkan isu pentingnya peran NU bertransformasi menjadi kekuatan "civil society" dalam proses mengontrol kekuasaan rejim politik negara. Gusdur "lolos" dan kembali terpilih menjadi ketua umum PBNU untuk ketiga kalinya.


Itulah NU dan itulah Gusdur, selalu "sexi" dan menarik untuk di intervensi pihak luar secara politik. NU sangat piawai menikmatinya ibarat permainan " Interplay" dan tarik tambang politik seolah olah mewakili  "lenturnya" tarik tambang  yang melingkar tidak terlalu ketat dalam gambar lambang jam iyah NU.


Maka, tidak perlu khawatir berlebihan jiika misalnya  terdengar dan diduga ada anasir anasir kekuasaan di Jabar memberi dukungan "senyap" terhadap salah satu kandidat yang diprediksi maju dalam kontestasi pemilihan Ketua PWNU Jabar. Begitu pun tidak perlu 'baper" manakala PKB memberikan dukungan terang terangan terhadap kandidat yang lain. Semua opsi pilihan di atas memiliki resiko "plus" dan "minus" nya  termasuk memilih jalan independen secara politik sekalipun.


Hal yang penting disadari bersama adalah bahwa dukungan pihak eksternal tidak menjamin terpilihnya seorang kandidat. Terpilihnya Gusdur di dua kali Muktamar di atas bukti empirisnya tentu dengan catatan bahwa siapa pun yang didukung PKB memiliki peluang "dua langkah lebih maju". PKB memiliki instrument dan ketrampilan politik sangat memadai dan memiliki "hak sejarah" untuk melibatkan diri dalam dinamika "politik "ke NU an" termasuk memenangkan seorang kandidat di forum Konferwil NU Jabar kali ini.


Mari kita nikmati dinamika proses konferwil ini karena forum semacam inilah kata Gusdur panggung "hiburan politik" dalam permusyarawatan internal NU. "Orang NU mudah sakit gigi kalau dijauhkan dari obrolan politik", kata.Gusdur lebih lanjut dalam buku "Humor Humor Gusdur" untuk menggambarkan betapa takdir NU memang tidak jauh dari persoalan politik baik internal maupun eksternal.


Selamat ber konferwil !

KOMENTAR