Psikolog: Berbohong Pada Anak Bisa Menurunkan Daya Nalar Anak Bersangkutan

Binsar

Friday, 14-02-2020 | 14:53 pm

MDN
Ilustrasi berbohong pada anak [ist]

Inakoran.com

Orang tua yang kerap mengatakan sesuatu yang tidak benar terhadap anaknya dengan tujuan yang baik. Kebohongan seperti itu kerap disebut kebohongan putih atau White lies.

Contohnya, “ayo nak, kalau tidak lekas tidur nanti didatangi hantu, Kalau nakal nanti ayah telepon pak polis lho; kalau makanannya tidak dihabiskan nanti ayamnya mati", dsb.

Sepintas, pernyataan seperti itu dianggap biasa dan karena itu sering dilakukan berulang-ulang oleh orang tua, apalagi jika apa yang dikatan orang tua dituruti anak.

Para orang tua menganggap kebohongan yang mereka lakukan bertujuan untuk mengubah keadaan dan perilaku anak biar mau menuruti mereka.

Simak Video Inakoran.com dan jangan lupa klik subscribe and like

 

Ada banyak situasi yang menyebabkan orang tua berbohong pada anak. Seringkali hal tersebut dilakukan orang tua untuk melindungi perasaan anak agar tidak merasa kecewa atau sedih.

Namun, dosen Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya, Dr Nurul Hartini SPsi MKes mengatakan, meskipun bermaksud baik, namun orang tua perlu mempertimbangkan akibatnya pada perkembangan mental anak. Sering berbohong pada anak dapat menyebabkan nalar anak kurang berkembang dan dapat membuat anak bingung.

“Kebohongan orang tua akan menimbulkan tanda tanya dan rasa tidak nyaman pada anak,” kata Nurul, Jumat (14/2/2020).

Menurut dia, berbohong sejatinya tidak dibenarkan meskipun bertujuan untuk menyenangkan anak. Sikap dan respon orang tua seharusnya menyatakan kebenaran dengan bahasa yang tidak menyakiti hati anak.

“Caranya tentu dengan memilih pola mengomunikasikan yang bisa diterima anak dengan lapang,” kata dia.

Nurul mengatakan, anak-anak melihat orang tua sebagai sumber informasi yang akurat dan bisa diandalkan. Ketika orang tua berbohong dan si anak mengetahui kenyataan yang sebenarnya, bukan tak mungkin si anak akan ragu terhadap dirinya sendiri.

 

Ilustrasi 

 

Bahkan, mereka juga meniru perilaku orang tua untuk berbohong. Dalam penelitian Hays dan Carver di Science Daily, disebutkan bahwa anak cenderung berbohong kepada orang yang juga berbohong kepada mereka. Mereka lalu merasa tak perlu menjunjung komitmen kepada orang yang sudah membohonginya.

Makanya, kata Nurul, berkomunikasi secara terbuka terhadap anak adalah kunci kesuksesan membangun relasi harmonis orang tua dan anak. Strategi berkomunikasi pada setiap anak dan orang tua pasti berbeda karena setiap anak memiliki keunikan dengan karakteristik tertentu.

“Demikian juga setiap tahapan perkembangan anak menunjukkan pola dan seni berkomunikasi yang tidak sama. Kenali dengan benar karakteristik anak melalui relasi kasih sayang yang kuat dan positif,” kata dia.

KOMENTAR