Penderita Kanker Perlu Olahraga, Ini Alasannya

Binsar

Wednesday, 09-10-2019 | 12:00 pm

MDN
Ilustrasi pasien penderita kanker [ist]

Inakoran.com

Pembatasan aktivitas fisik memang dianjurkan untuk semua pasien, termasuk pasien kanker. Namun, terlalu sering beristirahat di tempat tidur, juga bisa menjadi salah satu masalah tersendiri bagi seorang penderita, termasuk pasien kanker. Karena itu, sejumlah pasien dianjurkan oleh dokter untuk melaksanakan olaharaga secara rutin.

Penelitian yang baru-baru ini diterbitkan menyatakan bahwa aktivitas fisik seperti olahraga tidak hanya berguna untuk mencegah penyakit kanker pada orang yang sehat, namun juga bisa membantu pengobatan dan meningkatkan kualitas hidup pasien kanker.

Menurut Data Riset Kesehatan Dasar Nasional (Riskesdas) tahun 2013, Provinsi Yogyakarta menduduki peringkat teratas untuk prevalensi kanker, yaitu 4,1dari 1000 penduduk.

Pengobatan yang utama bagi penderita kanker adalah kemoterapi. Kemoterapi memiliki dampak nyata terhadap fisik dan psikologis pada pasien kanker. Seringkali program terapi yang direncanakan tidak sesuai dengan waktu yang ditentukan, hal ini dikarenakan penundaan akibat kondisi pasien yang tidak memenuhi syarat untuk kemoterapi. Kondisi pasien yang mendapatkan pengobatan kemoterapi sering mengalami kekelahan. Kelelahan menimbulkan dampak negatif yang mempengaruhi keseluruhan aktivitas fisik, psikologis, sosial dan ekonomi.

Secara fisik, para penderita kanker menghadapi masalah psikososial dan masalah fisik selama dan setelah pengobatan kanker, seperti kelelahan, peningkatan risiko distress dan menurunkan aktivitas fisik dan fungsi fisik.

Akibat jangka panjang dari masalah tersebut dapat mempengaruhi kesehatan pasien yang berhubungan dengan kualitas hidup. Aktivitas fisik dapat mempengaruhi kesehatan pasien kanker setelah terdiagnosa, data terbaru menunjukkan bahwa aktivitas fisik dapat mencegah kematian akibat kanker.

Sejumlah penelitian sebelumnya ditemukan bahwa aktivitas fisik akan memberikan manfaat bagi kualitas hidup pasien kanker. Pada penelitian dari pasien kanker sebelumnya juga diketahui bahwa aktivitas fisik memberikan efek yang bermanfaat pada kelelahan dan distress. Aktifitas fisik dapat meningkatkan perasaan bahagia, meningkatkan kualitas hidup dan kelangsungan hidup diantara pasien dengan kanker (Sloan, 2016).

Aktifitas fisik adalah segala jenis kegiatan /gerakan badan yang mengeluarkan dan membutuhkan energi dalam prosesnya, termasuk latihan fisik dan olah raga, yang sangat penting untuk kesehatan tubuh dan dapat mencegah dan meningkatkan kualitas hidup pasien-pasien kanker.

Kanker adalah segolongan penyakit yang ditandai dengan pembelahan sel yang tidak terkendali dan kemampuan sel-sel tersebut untuk menyerang jaringan biologis lainnya, baik dengan pertumbuhan langsung di jaringan yang bersebelahan (invasi) atau dengan migrasi ke tempat yang jauh (metastasis).  

Ada beberapa teori yang menjelaskan mekanisme latihan fisik terhadap kanker berdasarkan penelitian terhadap pasien kanker payudara:

Teori Hormonal

Estrogen sebagai inisiator karsinogenesis payudara meningkatkan proliferasi sel epitel payudara, sehingga semakin tinggi kadar estrogen semakin meningkatkan resiko kanker payudara pada wanita yang tidak aktif. Aktivitas fisik dengan intensitas sedang dan tinggi selama usia reproduksi dapat menurunkan kadar estrogen sehingga menurunkan resiko kanker payudara. Aktifitas fisik yang dilakukan oleh wanita menopause dapat menurunkan kadar estron, estradiol dan androgen yang merupakan prekusor dari estrogen sehingga menurunkan resiko kanker payudara.

Teori Imunitas

Dengan melakukan latihan fisik secara teratur dan terprogram, sistem imun akan meningkat. Sistem imun yang baik akan meningkatkan jumlah dan fungsi dari sel Natural Killer yang memiliki peran sebagai tumor suppression sehingga resiko kanker menurun dengan mengenali dan mengliminasi sel abnormal atau melalui komponen sistem imun bawaan atau didapat.

Teori Inflamasi

 

Lawan kanker dengan berolahraga [ist]

 

Peningkatan faktor inflamasi (C-reactive protein (CRP), interleukin 6 (IL6). tumor necrosis faktor α (TNFα) dan penurunan faktor anti inflamasi (adiponektin) meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara. Rendahnya jumlah adipoctin berhubungan dengan Body Mass Indeks (BMI) yang tinggi, persentase lemak tubuh tinggi dan besarnya lingkar pinggang. Peningkatan jumlah adiponektin dapat diperoleh dengan melakukan aktivitas fisik.

Latihan fisik dimulai dari intensitas rendah dan akan ditingkatkan secara berkala. Apabila pasien tidak melakukan latihan fisik secara teratur, maka akan memulai kembali program latihan, intensitas yang disarankan mulai dari intensitas awal.

Jenis latihan yang direkomendasikan adalah yang pertama adalah latihan kardiorespirasi yang dapat memperbaiki kerja jantung dan kapasitas fisik, mengurangi berat badan, mengurangi kelelahan otot dan mengatasi depresi. Yang kedua, latihan beban dengan supervisi dapat meningkatkan massa otot.

Latihan ini akan memberikan manfaat yang signifikan bagi penderita kanker dan semua bisa dilakukan bila tidak ada kontraindikasi seperti resiko fraktur atau infeksi.

Olahraga adalah cara alami menjaga kesehatan dan mencegah penyakit, olahraga adalah suatu keharusan, sama seperti makan dan berdoa. Aktif bergerak setiap hari dapat menjaukan dari resiko penyakit seperti kanker. Orang yang menderita kanker tidak hanya menderita secara fisik, tatapi juga bisa mempengaruhi psikologisnya seperti muncul perasaan cemas, depresi, dll.

Hal tersebut dapat dihilangkan dengan olahraga. Apabila penderita kanker rutin berolahraga akan muncul manfaat yang sangat banyak antara lain mengurangi berat badan, menghilangkan depresi dan kelelahan otot, menambah massa otot, dan mental menjadi lebih sehat.

KOMENTAR