Bocah Amerika Berusia 12 Tahun Alami Rasisme di Media Sosial

Binsar

Thursday, 22-01-2026 | 11:05 am

MDN
Bocah berusia 12 tahun bernama Max, warga Iowa, Amerika Serikat, menjadi korban perundungan rasis (ist)

 

 

Jakarta, Inakoran

Seorang bocah laki-laki berusia 12 tahun bernama Max, warga Iowa, Amerika Serikat, menjadi korban perundungan rasis selama pertandingan sepak bola anak-anak. Sejumlah pemain menghinanya dengan komentar xenofobia terkait asal usulnya sebagai orang Asia dan kebijakan imigrasi negara tersebut.

Insiden itu menjadi viral di media sosial setelah dilaporkan oleh ibunya, menimbulkan kemarahan dan perdebatan tentang diskriminasi dan dampak ujaran kebencian terhadap anak di bawah umur.

Dilansir dari Marca, Max, yang lahir di Amerika Serikat dan memiliki ciri fisik Asia karena latar belakang ibunya yang berasal dari Thailand, dengan berlinang air mata menceritakan bahwa kiper lawan mengatakan kepadanya bahwa dia adalah imigran ilegal dan bahwa Presiden Donald Trump akan menangkapnya dan mengirimnya kembali, meskipun dia adalah warga negara Amerika sejak lahir.

Pihak berwenang melakukan penyelidikan.

Ibu Max, Mtee Te, membagikan sebuah video di media sosial di mana putranya tampak sangat sedih setelah pertandingan. Dalam klip tersebut, Max mengungkapkan kesedihannya atas hinaan yang diterimanya, yang dengan cepat memicu reaksi dukungan daring dan kritik terhadap perilaku pemain lain serta normalisasi wacana semacam ini di kalangan anak di bawah umur.

Menurut laporan, pihak berwenang terkait telah mengetahui insiden tersebut dan sedang menyelidiki apa yang terjadi untuk menentukan apakah tindakan disiplin akan diambil dalam konteks olahraga sekolah atau komunitas.

Max merasa terpengaruh oleh komentar-komentar yang berkaitan dengan isu-isu politik.

Serangan verbal tersebut terjadi dalam konteks di mana retorika tentang imigrasi - termasuk yang dipromosikan oleh para pemimpin politik seperti Presiden Trump - telah menjadi subjek perdebatan nasional. Komentar tentang imigran ilegal dan ancaman deportasi telah menjadi bagian dari wacana politik di Amerika Serikat, yang menurut beberapa ahli bahkan dapat memengaruhi cara anak-anak mengulangi bahasa tersebut yang dipelajari di rumah atau didengar di media.

Ibu dari anak laki-laki itu menekankan bahwa niatnya mengunggah video tersebut bukanlah untuk memprovokasi kontroversi, tetapi untuk mendorong refleksi tentang bagaimana kata-kata dapat sangat memengaruhi anak-anak, terutama ketika prasangka, politik, dan olahraga bercampur. 

 

 

"Perpecahan dan kebencian yang kita lihat di negara kita jelas menjangkau anak-anak kita, dan itu sangat memilukan," katanya.

Seruan untuk empati semakin besar

Kasus Max memicu reaksi kemarahan dan dukungan di media sosial , dengan ribuan pengguna mengutuk kejadian tersebut dan menggarisbawahi perlunya pendidikan toleransi dan rasa hormat sejak usia dini. Banyak yang menunjukkan bahwa ekspresi kebencian tidak boleh diterima atau dinormalisasi, terutama ketika diarahkan kepada mereka yang tidak memiliki kendali atas identitas atau situasi keluarga mereka.

Insiden tersebut juga kembali memicu perdebatan tentang dampak wacana politik terhadap masyarakat dan bagaimana pesan-pesan yang bias dapat menyusup bahkan ke ruang-ruang yang seharusnya aman dan membentuk karakter anak-anak, seperti olahraga remaja.

 

 

KOMENTAR