Petualangan Gerindra Dan Prabowo Sebagai Oposisi

Inakoran

Wednesday, 21-02-2018 | 22:29 pm

MDN
Ketum Gerindra Prabowo Subianto [ist]
Jakarta, Inako

Perjalanan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) tidak bisa dilepaskan dari sosok pendiri sekaligus ketua umumnya, Prabowo Subianto.

Dua kali Gerindra mengusung Prabowo pada Pemilihan Presiden (Pilpres). Pada Pilpres 2009, Prabowo maju sebagai calon wakil presiden bersama Megawati Soekarnoputri. Tetapi pasangan ini kalah dari Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono.

Namun Prabowo tidak patah arang. Pada Pilpres 2014, Prabowo mencalonkan diri sebagai presiden bersama Hatta Rajasa. Lagi-lagi, ia harus mengakui kemenangan pesaingnya, Joko Widodo-Jusuf Kalla. Dua kali Prabowo menelan kekalahan, dan Gerindra bertahan menjadi partai oposisi.

Pertanyaan adalah bagaimana Gerindra muncul dalam perhelatan politik nasional dan bersaing dengan partai politik yang sudah mapan. Pada pemilu 2014, di luar dugaan Gerindra meraih posisi ketiga di belakang PDIP dan Golkar. Ini merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa bagi sebuah partai yang masih berusia balita saat itu. Terdongkraknya suara Gerindra memang tidak lepas dari sosok mantan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad)  Letjen Prabowo Subianto dan orang-orang di lingkarannya.

Bila dilihat kembali kembali ke belakang, ide lahirnya Gerindra didorong oleh keprihatian Prabowo dan orang-orang dekatnya terhadap situasi bangsa. Situs resmi partai Gerindra yakni partaigerindra.or.id memberikan ulasan singkat terkait munculnya Gerindra di panggung politik nasional.

Pada November 2007, dalam sebuah perjalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta, terjadi obrolan antara Fadli Zon dan pengusaha yang juga adik Prabowo, Hashim Djojohadikusumo. Keduanya sepakat bahwa harus lahir sebuah partai baru untuk mengubah kondisi di Indonesia.

Gagasan pendirian partai kemudian diwacanakan di lingkaran orang-orang Hashim dan Prabowo. Namun, tidak semua setuju. Ada yang menolak. Alasannya, jika ingin ikut terlibat dalam proses politik, sebaiknya ikut saja pada partai politik yang ada.

Kebetulan, Prabowo saat itu adalah anggota Dewan Penasihat Partai Golkar, sehingga bisa mencalonkan diri maju menjadi ketua umum. Tetapi situasi pada waktu ini tidak memungkinkan Prabowo menjadi orang nomor satu di Golkar. Pasalnya, pada waktu itu Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla (JK) adalah wakil presiden yang mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. JK tidak akan memberikan jabatan Ketum Golkar kepada Prabowo.

Setelah perdebatan cukup panjang dan alot, akhirnya disepakati perlu ada partai baru yang benar-benar memiliki manifesto perjuangan demi kesejahteraan rakyat. Untuk mematangkan konsep partai, pada Desember 2007, di sebuah rumah, yang menjadi markas IPS (Institute for Policy Studies) di Bendungan Hilir, berkumpulah sejumlah nama.

Selain Fadli Zon, hadir pula Ahmad Muzani, M. Asrian Mirza, Amran Nasution, Halida Hatta, Tanya Alwi, dan Haris Bobihoe. Mereka membicarakan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) partai yang akan dibentuk.

Pasca pertemuan itu, pembentukan partai terus dilakukan secara maraton hingga sampai pada pemilihan nama dan lambang partai. Sempat muncul nama "Partai Indonesia Raya". Namun, nama tersebut batal dipakai karena pernah digunakan di masa lalu, yakni PIR (Partai Indonesia Raya) dan Parindra.

Lalu muncul ide GERAKAN  dari Hashim, sehingga kemudian menjadi Gerakan Indonesia Raya. Rapat pun menyetujui usulan ini. Alasannya simpel, selain gampang diucapkan, tapi juga mudah disingkat menjadi Gerindra.

Sejarah pembentukan

Pembentukan Partai Gerindra terbilang mendesak karena dideklarasikan berdekatan dengan waktu pendaftaran dan masa kampanye pemilihan umum, 6 Februari 2008. Pada Pemilihan Legislatif 2009, Gerindra berhasil meraih 4.646.406 suara (4,5 persen).

Hasil tersebut membuat partai ini mendapat 26 kursi (4,64 persen) di Dewan Perwakilan Rakyat. Dengan modal tersebut, Prabowo Subianto percaya diri mencalonkan diri pada Pemilihan Presiden 2009. Gerindra berkoalisi dengan PDI-P mengusung Megawati Soekarnoputri sebagai capres dan Prabowo sebagai cawapresnya.

Namun, pasangan ini kalah dari Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono yang diusung Partai Demokrat. Kalah di Pilpres, Gerindra bersama PDI-P menjadi parpol oposisi selama masa pemerintahan SBY-Boediono.

Berada di luar pemerintahan membawa suara Gerindra meningkat pesat. Pada Pemilu 2014, Gerindra menjadi partai politik ketiga terbesar di Indonesia, hanya kalah dari PDI-P dan Golkar. Gerindra mendapatkan 73 kursi di DPR RI setelah meraih 14.760.371 suara (11,81 persen).

Mendapat modal lebih besar pada Pemilu 2014, Gerindra percaya diri mengusung Prabowo Subianto sebagai calon Presiden. Prabowo berpasangan dengan Ketua Umum PAN Hatta Rajasa, dengan tambahan dukungan dari PKS dan PPP. Namun, Prabowo kembali menelan pil pahit karena kalah dari pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla yang diusung PDI-P, Nasdem, PKB, dan Hanura.

Kalah dari Jokowi-JK, Gerindra kembali menjadi partai oposisi. Gerindra tetap konsisten berada di luar pemerintahan bersama Partai Keadilan Sejahtera, meski satu per satu parpol oposisi berubah haluan untuk bergabung ke pemerintah.

Menjelang 2019, kader Partai Gerindra kembali mendorong Prabowo untuk kembali mencalonkan diri sebagai presiden. Gerindra juga optimistis bisa meraih suara lebih banyak dan menjadi partai pemenang pemilu. Motto yang gencar disuarakan Partai Gerindra adalah 'Prabowo Presiden, Gerindra Menang'.

 

 

KOMENTAR