IHSG Dibuka Anjlok 8%, Tergelincir ke Level 7.654
Jakarta, Inakoran
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren pelemahan tajam pada pembukaan perdagangan, seiring dampak pembekuan rebalancing dari penyedia indeks global MSCI. Tekanan jual yang kuat membuat pasar saham domestik langsung tertekan sejak awal sesi.
Berdasarkan data Bloomberg, IHSG dibuka merosot hingga 8,00% ke level 7.654,66 pada pukul 09.30 WIB. Dengan penurunan ini, IHSG resmi meninggalkan level psikologis 8.000. Pada saat yang sama, hanya 64 saham yang menguat, sementara 552 saham melemah dan 74 saham stagnan. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) pun menyusut menjadi Rp14.302,72 triliun.
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menjelaskan bahwa secara teknikal tekanan terhadap IHSG tergolong sangat kuat. Kondisi ini mendorong indeks masuk ke fase konsolidasi lanjutan, dengan area 8.050–8.000 menjadi zona uji penting, baik secara psikologis maupun teknikal.
Menurut Liza, peluang terjadinya relief rally—yakni kenaikan sementara setelah aksi jual besar—masih rentan. Selama belum ada respons regulasi yang konkret dan kredibel dari BEI maupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK), terutama terkait transparansi kepemilikan saham, setiap kenaikan berpotensi cepat dimanfaatkan pelaku pasar untuk kembali menjual.
“Tanpa kejelasan kebijakan, relief rally cenderung rapuh dan mudah berbalik arah,” ujar Liza, Rabu (28/1/2026).
Dalam jangka menengah, arah pergerakan pasar dinilai akan lebih ditentukan oleh langkah kebijakan regulator, bukan sekadar narasi pasar. Liza menilai tekanan dapat mereda apabila regulator mampu meningkatkan detail data kepemilikan saham, menekan risiko konsentrasi serta transaksi terkoordinasi, dan memberikan keyakinan kepada MSCI sebelum Mei 2026. Jika hal itu terjadi, risk premium berpotensi menurun dan sentimen pasar membaik.
Namun sebaliknya, jika isu ini berlarut-larut, IHSG berisiko berkinerja lebih buruk dibandingkan bursa saham regional lainnya, meskipun kondisi makroekonomi domestik relatif stabil.
Menghadapi situasi tersebut, Liza menyarankan investor untuk mengambil sikap wait and see. Selama IHSG masih berpeluang bergerak di area konsolidasi 8.050–8.000, langkah paling rasional adalah menahan diri, bukan mencoba menangkap penurunan tajam atau catching the falling knife.
“Valuasi saham-saham berkapitalisasi besar memang mulai terlihat menarik, tetapi momentum masuk tetap krusial karena aliran dana asing belum sepenuhnya stabil,” tutup Liza.
Disclaimer:
Perlu diingat bahwa investasi di pasar saham selalu melibatkan risiko. Oleh karena itu, selalu lakukan penelitian Anda sendiri dan konsultasikan dengan penasihat keuangan profesional sebelum membuat keputusan investasi.







KOMENTAR