Pemkab Boyolali Sulap Rusunawa Jadi Rumah Sakit Darurat Covid-19

Shanty

Friday, 10-04-2020 | 23:47 pm

MDN
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, kunjungi RSD covid-19 Boyolali. (dok. Humas Pemprov Jateng).

Boyolali, Inako

 

Mengantisipasi terjadinya lonjakan pasien kasus covid-19, Pemkab Boyolali menyulap atau mengalihfungsikan rumah susun sewa (Rusunawa) menjadi rumah sakit darurat covid-19

JUGA: Saudara kembar yang 'melakukan semuanya bersama-sama' Tewas karena coronavirus terpisah beberapa hari

BACA JUGA:  Katedral Notre Dame Paris dibuka sebentar untuk upacara Jumat Agung

BACA JUGA: Melania Trump mengeluarkan Aturan Umum tentang penutup wajah di tengah coronavirus

 

Rumah sakit darurat (RSD) tersebut telah direnovasi sedemikian rupa sehingga memiliki 18 ruang rawat inap, masing-masing berisi dua tempat tidur; ruang instalasi gawat darurat (IGD), radiologi dan isolasi. 

Oleh Bupati Boyolali, Seno Samodro, RSD diperuntukkan untuk orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) yang memiliki gejala ringan hingga sedang. Adapun pasien dengan gejala berat, perawatannya di RSUD Pandan Arang Boyolali.

"Saat ini kami sudah merawat 8 pasien. Sebagian rujukan dari puskesmas dan dari luar daerah. Mereka di sini bervariasi ada yang dua dan tiga hari. Selanjutnya mereka isolasi mandiri di rumah," kata petugas RSD covid-19, dr Nugroho.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memberikan apresiasi atas langkah sigap Seno dan jajarannya. Bahkan Ganjar merasa senang lantaran tindakannya menyiapkan infrastruktur kesehatan juga diikuti oleh bupati dan wali kota di Jawa Tengah.

"Sebenarnya ini cara yang bisa kita siapkan dengan urut-urutan. Ini tindakan-tindakan yang mesti dilakukan kabupaten kota untuk berjaga-jaga," kata Ganjar, Jumat (10/4/2020), saat meninjau RSD. 

Selain Boyolali, Pemkot Surakarta dan Pemkab Brebes juga telah melakukan hal serupa. Kedua pemerintah daerah itu mempercepat pembangunan rumah sakit baru agar bisa dimanfaatkan untuk penanganan COVID-19. 

"Itu sampai last resort kita siapkan seandainya grafiknya naik terus menerus. Jika rumah sakit tidak cukup, jika ada rumah sakit baru bisa kita percepat. Kalau tidak ada rusunawa bisa kita pakai. Kita juga bisa pakai asrama haji, hotel, diklat-diklat yang banyak kamarnya, kita juga bisa pakai stadion. Kalau tidak cukup kita bisa pakai tenda," ungkap Ganjar.

 

KOMENTAR