Harga Minyak Kembali Naik, Pasar Waspadai Potensi AS Serang Iran
Jakarta, Inakoran
Harga minyak dunia kembali menguat untuk hari ketiga berturut-turut. Kenaikan ini dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan Amerika Serikat (AS) melakukan serangan militer ke Iran, salah satu produsen minyak utama di Timur Tengah. Jika konflik benar-benar terjadi, pasokan minyak dari kawasan tersebut dikhawatirkan akan terganggu.
Pada Kamis (29/1/2026) pukul 09.30 WIB, harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman Maret 2026 naik 50 sen atau 0,73 persen menjadi US$ 68,9 per barel.
Sejalan dengan itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menguat. Kontrak pengiriman Maret 2026 naik 58 sen atau 0,92 persen ke level US$ 63,79 per barel.
Secara keseluruhan, kedua kontrak minyak tersebut telah melonjak sekitar 5 persen sejak 26 Januari dan kini berada di posisi tertinggi sejak 29 September lalu.
BACA JUGA:
Harga Emas Antam Cetak Rekor, Naik Rp165.000 Per Gram
IHSG Rontok, MSCI Netralkan Bobot Saham Indonesia
IHSG Dibuka Anjlok 8%, Tergelincir ke Level 7.654
Kenaikan harga ini tidak lepas dari sikap Presiden AS Donald Trump yang meningkatkan tekanan terhadap Iran agar menghentikan program nuklirnya. Ancaman serangan militer, ditambah dengan kehadiran kelompok angkatan laut AS di kawasan tersebut, membuat pasar semakin waspada terhadap risiko geopolitik.
Iran sendiri merupakan produsen minyak terbesar keempat di dalam Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), dengan produksi mencapai sekitar 3,2 juta barel per hari. Gangguan terhadap produksi Iran tentu berpotensi memberi dampak besar terhadap pasokan minyak global.
Reuters melaporkan bahwa pemerintahan Trump tengah mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk kemungkinan menyerang pasukan keamanan dan para pemimpin Iran, dengan tujuan memicu gelombang protes yang dapat menggoyahkan rezim yang berkuasa. Informasi ini diperoleh dari sumber-sumber AS yang mengetahui pembahasan tersebut.
Analis Citi menilai meningkatnya risiko Iran terkena serangan telah menambah “premi geopolitik” pada harga minyak, yang diperkirakan mencapai US$ 3 hingga US$ 4 per barel. Jika eskalasi geopolitik berlanjut, harga minyak Brent bahkan berpotensi naik hingga US$ 72 per barel.
Selain faktor geopolitik, harga minyak juga didukung oleh penurunan tak terduga persediaan minyak mentah di AS, yang merupakan konsumen minyak terbesar di dunia. Data Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah turun 2,3 juta barel menjadi 423,8 juta barel pada pekan yang berakhir 23 Januari. Angka ini berbanding terbalik dengan perkiraan analis Reuters yang sebelumnya memprediksi kenaikan sebesar 1,8 juta barel.
Analis pasar XS.com, Linh Tran, menyebut kondisi tersebut menandakan keseimbangan penawaran dan permintaan jangka pendek semakin ketat. Hal ini mencerminkan permintaan kilang yang stabil, sementara pasokan minyak yang tersedia di pasar semakin terbatas.
Secara keseluruhan, Citi memperkirakan harga minyak masih berpeluang bertahan di level tinggi. Risiko geopolitik yang meningkat, pembatasan AS terhadap pembelian minyak Rusia, serta permintaan yang terus berlanjut dari China menjadi faktor pendukung, meskipun pasar sebenarnya memasuki tahun ini dengan ekspektasi kelebihan pasokan yang cukup besar.







KOMENTAR