Keluarga Presiden Sri Lanka jadi Bulan-bulanan Massa

Aril Suhardi

Wednesday, 11-05-2022 | 16:17 pm

MDN
Keluarga Presiden Sri Lanka jadi Bulan-bulanan Massa [ist]

 

 

Jakarta, Inako

Sri Lanka masih diguncang krisis ekonomi yang sudah menjerat negara tersebut sejak beberapa bulan lalu.

Keluarga Rajapaksa yang kini masih menduduki pemerintahan Sri Lanka diminta turun oleh masyarakat. Demo yang terjadi beberapa waktu belakangan memang menuntut agar Presiden Gotabaya Rajapaksa segera turun dari takhtanya.


Baca juga: Stres Karena Utang Pinjol, Ibu ini Bunuh Diri dan Gagal, tapi Anaknya Tewas


Pada Senin (9/5/2022), masa semakin marah dan kemudian membakar beberapa rumah milik keluarga Rajapaksa.

Seluruh bagian rumah Perdana Menteri (PM) Mahinda Rajapaksa dan adiknya, Presiden Gotabaya Rajapaksa, di kota Hambantota dilahap api.

Tindakan ini merupakan bentuk protes warga terhadap kedua pemimpin atas krisis ekonomi yang semakin memburuk.

Diberitakan Al Jazeera, museum keluarga Rajapaksa jug diratakan dengan tanah. Selain itu, massa juga menggulingkan dua patung lilin orang tua Rajapaksa bersaudara.

Selain itu, ratusan demonstran lainnya dilaporkan mencoba untuk menyerbu kediaman resmi PM Mahinda Rajapaksa di Temple Trees, Kolombo.

Tentara Sri Lanka pun terpaksa mengevakuasi PM dan keluarganya dari rumah ke tempat yang dirahasiakan.

Mahinda Rajapaksa mengundurkan diri pada hari yang sama setelah pecahnya bentrok antara pihak pro dan anti-pemerintah yang kemudian menewaskan 7 orang dan melukai 200 orang lainnya.

Pengunduran diri Mahinda rupanya dilakukan untuk mencegah terjadinya aksi demonstrasi yang lebih parah lagi.

Sebagai informasi, Klan Rajapaksa telah mengendalikan medan politik Sri Lanka selama dua dekade terakhir.

Saat ini mereka disalahkan warga Sri Lanka atas krisis ekonomi yang melumpuhkan negara yang terletak di kawasan Asia Selatan itu.

Mahinda dan Gotabaya telah lama dituntut mundur dari jabatan mereka setelah gagal dalam membenahi situasi ekonomi negara yang berantakan, terutama karena pandemic Covid-19.

KOMENTAR