Trump Sebut Zelenskyy Diktator yang Gagal Mengakhiri Perang Dengan Rusia

Binsar

Friday, 21-02-2025 | 10:04 am

MDN
Foto gabungan menunjukkan Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy [ist]

Jakarta, Inakoran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada hari Rabu menyebut Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sebagai dictator. Julukan tersebut disampaikan di tengah meningkatkan kritik terhadap pemimpin Ukriana itu karena gagal mengakhiri invasi Rusia ke negaranya.

Dalam unggahan di media sosialnya, Trump menegaskan bahwa Zelensky telah menerima miliaran dolar dari Amerika Serikat untuk melawan Rusia namun gagal mengakhiri konflik.

Mengacu pada karier Zelenskyy sebagai penghibur populer sebelum ia menjabat pada tahun 2019, Trump menyalahkan pelawak yang cukup sukses itu karena menyeret pemerintahan AS sebelumnya untuk mendanai perang yang tidak dapat dimenangkan, yang tidak perlu dimulai, dan bahwa Ukraina tidak akan pernah bisa tenang tanpa bantuan dari pemerintahannya.

Trump kemudian menyebut Zelenskyy sebagai "seorang diktator tanpa pemilu," dan menuduh pemimpin Ukraina itu menolak mencalonkan diri kembali di tengah perang, mengingat masa jabatannya yang lima tahun seharusnya berlangsung hingga Mei 2024.

Ia juga secara keliru mengklaim bahwa Ukraina memulai konflik sambil mendesak Zelenskyy untuk segera menerima kesepakatan damai atau menghadapi risiko kehilangan negaranya.

Serangan melalui media sosial itu terjadi beberapa jam setelah pemimpin Ukraina mengklaim Trump "hidup dalam ruang disinformasi" yang dibuat oleh Rusia dan menuntut agar pemerintahan barunya menghormati kebenaran.

Kemudian pada hari Rabu, ia melontarkan kritik serupa terhadap Zelenskyy pada sebuah konferensi investasi di Florida, yang diselenggarakan oleh dana kekayaan negara Arab Saudi.

 

Vladimir Putin, Donald Trump dan Volodymyr Zelenskyy [ist]

 

Ia mengatakan Zelenskyy harus "bergerak cepat karena perang itu menuju ke arah yang salah. Sementara itu, kami berhasil merundingkan akhir perang dengan Rusia, sesuatu yang diakui semua orang hanya bisa dilakukan oleh Trump."

"Saya cinta Ukraina, tetapi Zelensky telah melakukan pekerjaan yang buruk. Negaranya hancur," kata Trump, dilansir dari Kyodonews.

"Anda tidak dapat mengakhiri perang jika Anda tidak berbicara dengan kedua belah pihak, Anda harus berbicara," imbuh Trump. "Saya berharap warisan terbesar saya adalah sebagai pembawa perdamaian dan pemersatu."

Pada hari Selasa, Trump mengatakan dia "jauh lebih yakin" dalam mencapai kesepakatan untuk menghentikan perang yang telah berlangsung hampir tiga tahun setelah pejabat senior Amerika Serikat dan Rusia mengadakan putaran negosiasi pertama.

Selama pembicaraan AS-Rusia, yang berlangsung di Arab Saudi, Menteri Luar Negeri Marco Rubio setuju dengan mitranya dari Rusia Sergey Lavrov bahwa kedua negara akan membentuk tim tingkat tinggi untuk terus bekerja pada jalur untuk mengakhiri konflik.

Sementara perang terus berlanjut, Zelenskyy tetap mempertahankan jabatannya karena kondisi keamanan dan kendala hukum, khususnya deklarasi darurat militer yang sedang berlangsung, tidak memungkinkan diselenggarakannya pemilihan presiden atau parlemen.

Namun Rusia, yang melancarkan invasi ke Ukraina pada Februari 2022, telah berulang kali mempertanyakan legitimasi Zelenskyy sebagai presiden.

 

 

KOMENTAR