“Wayang Masuk Sekolah” Rekonstruksi Nilai Kemanusiaan Indonesia

Redaksi Inakoran

Saturday, 28-07-2018 | 12:42 pm

MDN
Ratusan siswa berkumpul sebelum kirab budaya bertema wayang di SD Negeri 26 Solo dalam kegiatan Wayang Masuk Sekolah, Rabu (18/7).[ist.]

Wayang sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia, semakin dilupakan anak-anak. Mereka lebih mengenal tokoh superhero dari luar negeri dibanding budaya wayang.

Lebih mengenaskan lalu menggelikan sekian orang waras, manusia dewasa bermerek Tuhan dengan lapang dada ajar saling benci, karena beda keyakinan, ras, suku dan warna kulit. Pinjam istilah Prof Sjafii Maarif;  untuk menggapai tahta politik,  orang dewasa ajar theologi maut yang dipanen maut, beraninya mati. “orang waras harus melawan, jangan diam” tegas prof Maarif, dalam video yang diviral di media sosial beberapa bulan lalu.

Seharusnya budaya kerja keras, budaya berilmu, budaya gotong royong satu amalan dan satu pekerjaan yang disokong habis-habisan. Budaya membanting tulang bersama dan, budaya perjuangan bantu membantu demi kepentingan semua. Holopis Kuntul Baris bagi kepentingan dan bersama, tegas Soekarno ( Amerta 2018: Warisan Agung pendiri Bangsa).

China, meski distigma jauh dari Tuhan katanya, bahkan haluan politik mereka yang komunis itu dilansir tak ber-agama misalnya, lalu mengapa negeri ini yang didapuk ketat, bangsa religius tidak menguasai wacana perdagangan dunia yang disegani. Jangan-jangan emblem bangsa religius, kebanggaan semu semata.  Semata-mata dan satu-satunya rasa bangga yang dijulang-julang berkian-kian meski  dalam fakta disepeleke.

UNESCO, Lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB, pada 7 November 2003 menetapkan (recognize) wayang sebagai pertunjukkan bayangan boneka tersohor dari Indonesia, sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur, mendidik, menuntun manusia menjadi “berarti”  (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). Adakah pengakuan semacam, dari lembaga berkelas dunia terkait budaya antagonis atau kibar perang saudara memilukan hingga anak-anak tak berdosa menjadi korban bengis kepandiran?

Wayang, oleh para leluhur bangsa ini diakui sebagai nilai keutamaan manusia yang saling terhubung antara Tuhan dan hasil ciptaan Tuhan.  Jagat raya dan segala isinya adalah koherensi nilai Ketuhanan dan, Wayang, adalah “pandu utama” yang mencakup.  Mengapa ditinggalkan.

Sebelum jauh dan makin menjauh ditinggal, layaknya desa tertinggal dibelahan negeri kolam susu, demikian dipindai oleh Koesplus bersaudara di suatu era, masih banyak orang waras di negeri ini, tampaknya.

Wayang, dikontraskan kembali oleh para guru-guru sekolah dasar di Solo, Jawa tengah. Kota sejuk kelahiran Ibu Tien Soeharto, senantiasa tampil anggun berkebaya, memesona badannya dililit batik, karuan cantiknya bertudung konde artifisial dari anasir budaya Indonesia dan, dalam wayang demikian mendidiknya bukan, mengajar lohh.   

 Menjelang perayaan Hari Anak Nasional, 23 Juli, “Wayang Masuk Sekolah” mencoba mengenalkan kembali wayang pada anak-anak.

Empat orang anak berseragam sekolah dasar tampak berkumpul di salah satu sudut sekolah di Solo, pertengahan pekan kemarin. Mereka tampak membahas film "Avengers Infinity Wars" dan "The Incredibles", film-film superhero yang sedang tren di televisi maupun bioskop. Salah seorang anak, Desta, siswa kelas 5 SD mengaku tak tahu jenis maupun tokoh pewayangan, tetapi cepat menjawab saat ditanya tentang superhero idola.

"Wayang, aku nggak tahu. Nggak ngerti. (Kalau tokoh superhero?) Nah itu aku tahu, ada Super Dede, ada Superman, Batman, banyak. Hahaha.. (Superhero idolamu?) Ya jelas Superman," kata Desta.

Jawaban hampir serupa dilontarkan salah seorang anak lainnya yang berdandan dan berbusana tokoh pewayangan saat sekolah menggelar karnaval budaya wayang. Siswa SD itu, Widya, mengaku tak tahu tokoh wayang yang busananya dipakai saat karnaval tersebut.

Tiga siswa SD sedang bermain menggunakan wayang golek di SD Negeri 26 Solo dalam kegiatan Wayang Masuk Sekolah, Rabu (18/7). [ist.]

 

Berbeda dengan Satria, siswa SD yang berbusana tokoh wayang Gatotkaca, yang tampil lengkap dengan tempelan kumis hitam. Tingkah lucu Gatotkaca junior berkumis ini mengundang gelak tawa teman-temannya.

"Saya pakai baju wayang Gatotkaca. Saya senang bisa ikut karnaval Wayang. Gatotkaca itu tokoh pemberani, bisa terbang," ujar Satria.

Wayang sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia seringkali dilupakan anak-anak. Selama ini pelajaran wayang hanya ada di mata pelajaran muatan lokal daerah dengan durasi 2-3 jam per minggu. Itupun belum dengan materi bahasa daerah.

TAG#Editorial, #Wayang

74456066

KOMENTAR