Rupiah Makin Limbung, Mendekati Rp 16.000/US$

Sifi Masdi

Tuesday, 02-04-2024 | 10:33 am

MDN
Ilustrasi rupiah Vs dolar As [ist]

 

 

 

Jakarta, Inakoran

 

Nilai tukar uang Rupiah kembali merosot terhadap Dolar Amerika Serikat (AS), pada pembukaan perdagangan, Selasa (2/4/2024). Mata uang Garuda tersebut mendekati  level psikologis Rp 16.000/US$. Berdasarkan data Refinitiv, Rupiah dibuka melemah 0,41% ke posisi Rp 15.950/US$, berbanding penutupan perdagangan Senin sebelumnya di posisi Rp15.885/US$.

 

BACA JUGA: BI Keluarkan Jurus Amankan Rupiah di Tengah Menghangatnya Sengketa Pilpres

 

Pelemahan Rupiah ini terjadi di tengah tingginya permintaan akan dolar AS menjelang libur Lebaran dan aliran dana asing yang masih keluar dari Indonesia. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia, Edi Susianto, mengungkapkan bahwa pelemahan Rupiah dipengaruhi oleh repatriasi dividen dari dalam negeri yang mendorong permintaan dolar AS, serta arus keluar.

 

Data inflasi Maret 2024 yang berada di atas ekspektasi pasar juga ikut memberikan dampak. Kendati demikian, Edi memastikan Bank Indonesia tetap berada di pasar untuk menjaga keseimbangan supply demand valas di market.

 

 

 

Ekonom Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai pergerakan Rupiah tersebut dipicu oleh permintaan tinggi dolar AS di dalam negeri. Permintaan ini berasal dari kebutuhan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) jelang Lebaran atau Idul Fitri 2024 hingga musim pembagian dividen.

 

BACA JUGA: Rekomendasi Saham Pilihan Hari Ini, Selasa (2/4/2024)

 

“Yang membuat Rupiah melemah karena permintaan dolar tinggi untuk impor BBM, maupun hot money outflow, serta permintaan dolar domestik meningkat saat ada musim pembagian dividen,” kata Myrdal.

 

Impor Minyak Melonjak

 

Di momen Lebaran pada April 2024 ini, masyarakat cenderung kembali ke kampung halaman atau pun berwisata yang tentu akan memerlukan BBM dalam mobilitas. Maka dari itu, permintaan akan BBM akan naik atau dengan kata lain impor minyak akan melonjak.

 

Lebih lanjut, dana asing juga keluar dari pasar keuangan domestik khususnya Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Data transaksi 25-27 Maret 2024, investor asing tercatat jual neto Rp1,36 triliun dan jual neto Rp0,74 triliun di SRBI. Sementara pada pekan ketiga Maret 2024, investor asing juga tercatat jual neto sebesar Rp 6,68 triliun dengan jual neto Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp8,2 triliun.

 

BACA JUGA: BCA Peroleh Status Brand Perbankan Terkuat di Dunia dari Brand Finance

 

Menurut Rully Wisnubroto dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, faktor pendorong pelemahan rupiah utamanya yakni dari eksternal khususnya datang dari AS. Ketua bank sentral AS (The Fed) Jerome Powell memberi sinyal tidak akan terburu-buru menurunkan suku bunga. Oleh karena itu, higher for longer masih akan berlangsung untuk beberapa waktu ke depan.

 

Kuatnya data ekonomi AS masih cukup kuat belakangan ini. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang tidak termasuk makanan dan energi pada Februari 2024 tercatat 2,8% secara tahunan dan naik 0,3% dari bulan lalu. Kedua angka tersebut sesuai dengan perkiraan Dow Jones.

 


 

KOMENTAR