KH.  Imam Jazuli dan Spirit Memenangkan PKB

Tommy Duang

Friday, 27-05-2022 | 17:20 pm

MDN
H. Adlan Daie, Pemerhati politik dan sosial keagamaan.

 

Oleh: H. Adlan Daie

Tiga kali Dahlan Iskan, pemilik media "Jawa Pos Group", menteri BUMN di era Presiden SBY menulis profile KH. Imam Jazuli, pengasuh pondok pesantren "Bina Insan Mulia" Cirebon Jawa Barat yang pernah dikunjungi Dahlan Iskan dan mencoba menyelam secara mendalam tentang motif apa yang menggairahkan spirit perjuangan kiai muda ini untuk totalitas memenangkan PKB pada Pemilu 2024.

 

Bagi Dahlan Iskan, jalan perjuangan politik yang ditempuh KH. Imam Jazuli dalam totalitas melibatkan diri untuk memenangkan PKB adalah jalan politik penuh resiko bagi masa depan pesantren yang dirintis, dibangun dan kini menjadi pesanren "berbindang" dalam kemampuan "mencetak" santri mampu bersaing diterima masuk jenjang pendidikan tinggi luar negeri khususnya ke Universitas Al Azhar, Kairo Mesir, tempat di mana dulu beliau pernah menimba ilmu di sana.

Penulis empat kali berkunjung ke pesantren beliau dan berdiskusi serius soal peta jalan memenangkan PKB.

Bagi beliau memenangkan PKB adalah memenangkan politik "Ahlus Sunnah Wal.Jamaah".

Beliau sebagai alumni Al Azhar Mesir memberi illustrasi bahwa dulu Mesir secara politik dikuasai dinasti politik "syi'ah fatimiyah" hanya mampu ditaklukkan menjadi "sunni" melalui jalan politik.

 


Baca juga

Politik PBNU dan PKB


 

Pun Arab saudi yang "sunni" dibawah rejim Turki Ustmani luluh lantak menjadi "Wahabi" karena operasi politik "keluarga saud" berkongsi dengan gerakan Wahabi dipimpin Muhamad Abdul Wahhab.

Intinya jalan politik adalah jalan perjuangan ideologi dalam format "natoin state" (negara bangsa).

PKB bagi KH. Imam Jazuli satu satunya partai politik di Indonesia yang dilahirkan oleh NU untuk instrument politik praktis dalam perjuangan "politik Ahlus Sunnah Wal Jamaah".

PKB adalah instrument perjuangan politik praktis kaum santri telah berhasil "menembus" kebijakan negara dan berhasil memperjuangkan penetapan Hari Santri Nasional (HSN) dan UU Pesantren.

 


Baca juga

Indonesia Kehilangan Tokoh Besar Dalam Bidang Toleransi


 

Santri dan pesantren itulah dua identitas kultural NU yang diperjuangkan PKB untuk menandai kemenangan politik "Ahlus Sunnah Wal Jamaah" secara politik yang dulu berpuluh puluh tahun hanya mampu "berteriak" bahwa NU punya "saham" besar bagi berdirinya NKRI.

Dalam kerangka dan cara pandang ideologis di atas itulah penulis memahami jalan politik penuh resiko yang ditempuh KH. Imam Jazuli dalam konteks totalitas memperjuangkan pemenangan PKB pada pemilu 2024 tanpa intensi, interest dan kepentingan personal politik sang kiai muda ini hingga siap "melawan siapa pun" yang hendak melemahkan posisi politik PKB.

Spirit inilah menurut KH. Imam jazuli harus digelorakan dalam dada seluruh kader PKB di segala jenjang struktural PKB dan warga NU di level akar rumput.

Menurutnya PKB saat ini belum mampu meraih potensi historis elektoralnya sebesar 18% sebagaimana dua kali pernah dicapai partai NU (1955 & 1971) salah satunya karena terjangkit mental "inlander" dan tidak percaya diri.

 


Baca juga

Bertemu Presiden Majelis Umum PBB, Puan Singgung UU TPKS Sebagai Dukungan Bagi Perlindungan Perempuan


 

Dalam bahasa penulis "politisi santri" acapkali "inferior" perhadap hadapan dengan "para priyayi politik".

Menguttip KH. Idham Kholid, ketua umum PBNU (1954 -1984) NU seringkali "dipaksa" hanya menjadi "kayu bakar' untuk pesta politiknya pihak lain".

Ironisnya justru sebagian dari kita malah senang menjadi "kayu bakar" atau sekurang kurangnya hanya "happy" menjadi "daun salam", diserap "wangi" daunnya lalu dicampakkan. Itulah yang harus diakhiri kata KH. Imam Jazuli. 

Caranya mari bersama sama dalam.ikhtiar kolektif memenangkan PKB pada pemilu 2024.

Wassalam.

 

**) H. Adlan Daie, Pemerhati politik dan sosial keagamaan

 

KOMENTAR